Aku hanyalah seorang gadis yang tidak pandai merangkai kata-kata menjadi untaian kalimat indah dan nikmat untuk dibaca... Percaya?
:))

Let me be the one... (SS501)


Tampilkan postingan dengan label BA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BA. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 02, 2010

The Actor, the Word, and the Only Jolie


Timeline : Januari 2002. Liburan Musim Dingin, masih Liburan Kenaikan Tingkat. Jolie, 14 tahun. Nathan, 16 tahun.
Rated : T
Genre : (Still) Romance; K-drama.
Disclaimer : Jolie Campbell adalah milikku. Nathan A. Montague adalah milik PM-nya. Dan cameo-nya? Hmm… Milikku juga, boleh tidak? *plak* :P
Note/Warning : Masih tetap sama dengan yang sebelumnya. Harap jangan dikorelasikan dengan kehidupan remaja di belahan bumi bagian timur *ehem* ;)

—Fanfic ini didedikasikan untuk my cece with her new job (later—or already?) *hwaiting! :D *, semua PM yang mencintai charanya, juga untuk setiap chara yang berharga bagi PM-nya…—

The Actor, the Word, and the Only Jolie

Cause everytime we touch, I get this feeling.
And everytime we kiss I swear I can fly.
Can't you feel my heart beat fast, I want this to last.
Need you by my side.


Pria itu mengulum lembut bibir kekasihnya. Mengecapnya—rasa vanilla, rasa yang sama seperti dessert mereka malam ini. “Masuklah,” lirihnya kemudian dengan mata yang setengah terpejam setelah beberapa saat. Tampak kepulan uap tipis lolos dari sela mulutnya yang mencuri sedikit kehangatan dari bibir ranum sang pasangan. “Hujan salju kelihatannya mau turun sebentar lagi,” bisik Leonardo DiCaprio tersenyum. Tangannya membukakan pintu di sebelah mereka, mempersilakan wanita yang dicintainya untuk masuk terlebih dahulu ke mobil. “Lagipula di villa nanti, aku yakin pasti akan lebih banyak yang bisa kita lakukan.” Garis senyum Leo melebar.

Vancouver memang bukan tergolong pilihan umum aktor Hollywood sekaliber dirinya. Dibandingkan negara tropis yang selalu menjadi destinasi favorit teman-teman sejawatnya kala musim dingin datang, pada kesempatan ini pria itu justru tertarik menjalani liburannya masih di benua yang sama. Dia dan kekasihnya berencana menetap di Vancouver selama beberapa hari kedepan—menyisihkan segala pekerjaan untuk sementara waktu, dan menikmati kebebasan untuk bangun lebih siang di setiap paginya. Ancaman paparazzi yang tidak akan gampang menyerah menguntit mereka kemana saja mungkin belum habis masa berlakunya. Tetapi untuk kali ini, Leo tidak peduli. Makan malam yang menyenangkan bersama wanitanya menjaga suasana hatinya tetap bagus hingga sekarang ini.

Leo beralih ke sisi lain kendaraannya. Dan dia seharusnya telah duduk di belakang kemudi kalau saja tidak ada panggilan yang menundanya untuk mengambil gerakan lebih lanjut. Seorang pemuda, berusia sekitar belasan tahun, berjalan tergesa menghampirinya dan bahkan nyaris berlari dalam kecepatannya yang semakin mendekat. Kening Leo mengernyit. Sungguh luar biasa lelaki yang beranjak dewasa itu, dia tidak tergelincir sedikitpun meskipun seluruh permukaan di kaki mereka terlapisi hamparan salju yang lumayan tebal.

“Ini.” Leo mengamati pemuda itu yang lalu agak membungkukkan badannya dengan sebelah telapak memegangi lutut dalam usaha mengatur sirkulasi pernafasannya. Selembar saputangan berwarna soft-pink dan sebuah alat tulis bertinta hitam diulurkan. “Tolong ditandatangani,” pintanya menatap canggung ke arah Leo.

“Untuk pacarmu?”

Lelaki muda itu sekilas mengangguk. Tubuhnya kini ditegakkan sambil merapikan mantel yang tadinya mengendur di bahunya. “Jolie Campbell.” Nathan tersenyum singkat pada pemeran tokoh utama film Romeo and Juliet di hadapannya. Jari-jarinya menyingkirkan sejumput serpihan putih dan beku yang mendarat di rambutnya sendiri. “‘Special to Jolie Campbell’. Jangan lupa mencantumkannya, Sir.”

**o**


Jolie Campbell menggigit bibir bawahnya. Kepalanya disandarkan pasrah pada pundak kekasihnya. Langit sudah tidak lagi mengutus butiran-butiran saljunya dalam misi untuk turun menciumi bumi. Lalu lintas pada badan jalan juga begitu sepi tanpa ada yang berlalu lalang mengusik ketenangan malam. Mayoritas Vancouver telah jatuh pulas lebih dini dibuai cuaca yang menyelimuti dengan intensitas dingin yang kadarnya di bawah normal dari hari biasa. Hanya ada satu dua cahaya dari rumah penduduk sekitar yang memetakan masih adanya tanda kehidupan di alam sadar selain Jolie dan Nathan yang sedang menyusuri trotoar dalam perjalanan pulang.

Pharamaond Resto, sebuah restoran kecil yang letaknya cukup dekat dengan villa keluarga Montague tersebut merupakan lokasi dimana mereka baru saja melalui jam makan malam bersama. Tempatnya bisa dibilang tidak terkenal, tidak mewah, dan tidak ramai pengunjung dengan dekorasi yang sederhana pula. Namun baik Jolie maupun Nathan, keduanya menyukai suasana cozy Pharamaond dan menu bercita rasa tinggi yang disuguhkan. Identitas mereka tentu beresiko dikenali jika meninggalkan villa dengan tidak ada persiapan. Karena itu, masing-masing memakai kacamata berlensa bening yang bertengger apik di puncak hidung—samaran a la ‘Clark Kent’ sesuai usulan Nathan.

“Nathan, maafkan aku.” Jolie mengubah posisi kepalanya. Dagunya diletakkan pada bahu Nathan yang tengah menggendongnya dirinya di punggung lelaki itu. Rangkulan lengannya pada leher Nathan diperkencang. “Aku selalu menyusahkanmu. Maaf…” ulang Jolie untuk kesekian kalinya. Dia mencoba menafsirkan perubahan sekecil apapun pada raut wajah kekasihnya yang tetap memandang lurus ke depan. Lelakinya itu dari tadi belum memberikan respon sedikitpun dan membuatnya semakin diliputi perasaan tidak enak.

Fakta bahwa seorang Leonardo DiCaprio hadir secara nyata di sebuah restoran yang sama dengan mereka pada waktu yang tidak pernah terduga olehnya sempat memicu adrenalin Jolie sehingga terlalu antusias dan bersikap spontan layaknya fans yang bertemu idola. Demi mendapatkan tanda tangan Jack Dawson yang bangkit dari Samudera Atlantik itu, Jolie mencederai pergelangan kaki kanannya sendiri dalam ketidakhati-hatiannya melangkah. Nathan sudah khawatir dengan kekasihnya itu yang terduduk di lantai, tidak jauh dari samping counter ketika giliran mereka tiba membayar bill. Tetapi mengabaikan keadaannya yang menyedihkan (namun untungnya tidak memalukan karena tidak banyak saksi mata di sana), Jolie justru meminta lelakinya menyusul cepat sang aktor yang akan meninggalkan Pharamaond Resto. Dipaksakannya saputangan punyanya dan pena milik pegawai restoran yang memperhatikan mereka ke genggaman kekasihnya. “Kejarlah dia untukku, Nathan,” mohon Jolie tadi khawatir dan akhirnya menyebabkan lelaki muda Montague itu tidak sanggup menolak. “Please…” Sedikit keterlaluan memang kalau dipikirkan sekarang.

“Ponselmu.”

“Ha? Apa?” Jolie terkejut. Tanpa sadar dia ternyata telah melupakan sejenak kegiatan membujuk kekasihnya dan tenggelam dalam memori akan peristiwa di Pharamaond Resto sebelumnya. Suara Nathan yang tiba-tiba itu berhasil menyentaknya dari lamunan dan menyadarkan Jolie kalau lelaki itu masih dalam tahap enggan menggubris permintaan maafnya.

“Ponselku? Ada apa dengan ponselku?” tanya Jolie tidak paham maksud dari satu patah kata barusan. Didengarnya Nathan berdehem pelan saat dia merapatkan pipinya ke rahang kekasihnya itu.

“Bergetar terus. Ponselmu bergetar tiada henti di punggungku,” jelas Nathan acuh tak acuh. Intonasinya datar seolah berbicara pada angin. “Mengapa tidak kau angkat, heh? Mengganggu saja.”

**o**


Nathan sedang memandangi layar notebooknya saat sms pertama dari Jolie meniupkan nyawa pada telepon selularnya.

Love ya, my MoonlightMan yang tampan. Xoxo

Sender:
Mademoiselle Campbell
Received:
11:37:01 PM
Today


Tatapan mata Nathan menerawang. Ditelitinya lagi isi smsnya. Jolie sepertinya belum tidur gara-gara masih merasa bersalah padanya. Dan kelihatannya, kekasihnya itu kini mengubah strateginya dengan tidak lagi mengungkit kejadian di Pharamaond Resto tersebut. Gadis itu mengganti ucapan ‘maaf’-nya dengan kata sihir yang menghubungkan mereka berdua—cinta; juga menyebutnya ‘MoonlightMan yang tampan’, eh?

Nathan mendengus geli. Dia sebenarnya tidak bermaksud menyudutkan Jolie. Lelaki muda Montague itu hanya mau mengerjai kekasihnya sebagai wujud kompensasi atas kecemburuannya menyaksikan gadis itu menaruh ketertarikan pada lelaki lain. Leonardo DiCaprio memang aktor favorit Jolie sejak dulu—Nathan mengetahui hal itu. Tetapi meskipun demikian, dia tidak rela kalau harus berbagi perhatian dan hati gadisnya dengan Mister DiCaprio walaupun pria itu cuma berstatus ‘idola’ bagi kekasihnya.

To: Mademoiselle Campbell
Text:
Love you too, my DolphinGirl yang ‘sangat merepotkan’.
Xoxo? Apa itu?
Istirahatlah. Kau pasti lelah.


Nathan menekan-nekan keypad ponselnya dengan giat. Jolie itu miliknya, batinnya. Jolie Campbell adalah milik Nathan Alexander Montague.

Sending message… Delivered to: Mademoiselle Campbell.


…

1 New Message… Open.


Nathan menarik nafasnya penuh-penuh. Ada denyut aneh sekaligus menyenangkan yang bergelanyut gemas di rongga dalamnya ketika sms berikutnya dari Jolie dibacanya. Mendadak, entah bagaimana, Nathan menemukan ide yang menggelitik perutnya. Jolie Campbell… Liburan ini tidak akan seru tanpa meneruskan pemberian kejutan-kejutan kecil untuk gadis kesayangannya itu.

Tidak lelah. Tidak mau tidur.
Mau tahu arti xoxo? Aku ke tempatmu…

Sender:
Mademoiselle Campbell
Received:
11:43:15 PM
Today


Typing…

To: Mademoiselle Campbell
Text:
Ok.


Sending message…


…Delivered to: Mademoiselle Campbell.


**o**

“Nathan, pintumu tidak terkunci. Jadi aku masuk saja karena kupikir mungkin kamu… Nathan?”

Jolie tercekat. Ada yang janggal di sini. Jelas ada yang tidak wajar dengan ruang tidur Nathan dibandingkan kamarnya di seberang. Jantung Campbell remaja itu berdegup kisruh. Penerangan utama di ruangan ini tidak menyala. Hanya ada cahaya temaram dari lilin-lilin yang ditempatkan di beberapa titik dengan gorden di jendela yang ditutup berlapis. Dia bisa mencium aroma bunga-bungaan merebak memenuhi udara. Alunan piano berirama romantis menari indah di telinganya. Dan yang paling menakjubkan dari semuanya adalah, pemandangan di satu-satunya tempat tidur yang jaraknya terpaut lebar dengan ambang pintu dimana Jolie masih berdiri tegang. Nathan yang bertelanjang dada dengan celana panjang berbahan ringan sebagai bawahannya sedang duduk bersila di ranjang tersebut. Ekspresinya begitu serius dengan kedua siku bertumpu pada lutut. Cahaya yang berasal dari laptop di depan lelaki itu membuat gesturenya semakin menawan dan menggoda.

“Kemarilah,” perintah Nathan datar.

Jolie menutup pintu di belakangnya dengan gugup. “Bolehkah?” Dia ragu untuk beranjak. Keringat dingin membasahi tengkuk Jolie dengan cepat. Namun teringat niatnya meluluhkan sikap kaku lelaki itu sebelum hari ini berakhir, dia memantapkan hatinya melangkah lebih jauh ke dalam dan mengambil posisi di sebelah kekasihnya. Jolie berusaha meredam getaran di suaranya. “Apa lampu kamarmu rusak, Nathan?” Matanya tidak berani melirik. Jemarinya menyampirkan helaian rambutnya lalu memilin-milin ujung kimono tidurnya yang tidak diikat. Jolie tidak yakin bunyi detakan organ dalam dadanya mampu tersembunyi baik sekarang ini.

“Tidak,” jawab Nathan ringkas tanpa memalingkan muka. Terdengar klik-klik dari mouse yang dimainkannya. Lelaki itu tetap bertekun pada halaman demi halaman website yang terbuka di hadapannya dan bersikukuh dengan gaya stay-cool-nya.

“Err… Kamu bisa masuk angin kalau…”

“Aku malah kepanasan,” potong Nathan mementahkan perkataan Jolie yang tidak terselesaikan. Dia terlihat aktif membuka tab baru dan mengetikkan address untuk login email. “Sepertinya aku akan demam karena salju yang nakal sempat mampir ke kepalaku,” alasannya dengan nada jenuh.

Jolie refleks menolehkan wajahnya. Apakah karena dirinya? Gadis itu beringsut mendekat. “Benarkah?” Dia panik dengan Nathan yang kemudian membekap mulutnya sendiri. “Are you okay?” seru Jolie mengguncang bahu lelaki itu. “Nathan?” Telapak Jolie meraba dahi lelaki itu dan lehernya, mencari perbedaan suhu di antara mereka. “Tapi tidak hangat kok,” konfirmasinya polos. Raut Jolie berubah kebingungan dengan kekasihnya yang tiba-tiba tertawa memeluknya.

“Jolie, Jolie… Tentu saja tidak, Honey. Aku cuma main-main. Mana mungkin aku selemah itu.” Nathan mengecup kening Jolie sebentar. Telunjuk dan ibu jarinya mencubit halus pipi gadisnya yang telah merah padam layaknya kepiting rebus. “Maaf aku bersikap menyebalkan di perjalanan pulang kita tadi. Kau tidak marah, bukan?”

Jolie menanggapi sorot teduh dari warna biru bening mata kekasihnya dengan tidak percaya. Benaknya berdesing kuat. “Lepaskan aku,” berontak Jolie merasa bodoh. Dia berkelit dari rangkulan Nathan di pinggangnya. Didorongnya dada lelaki itu. Sensasi asing melandanya ketika tangannya menyentuh kulit yang terbuka lapang tersebut—tapi itu tidak penting. “Kamu jahat, Nathan. Padahal aku cemas sekali kalau kamu sakit. Kamu tega mempermainkanku…”

Jolie mencapai tepi ranjang lelaki itu dalam satu gerakan. Dia memasang sandal tidurnya dan bersiap lari keluar. Jolie tidak terima dengan perlakuan Nathan padanya. Namun di saat yang bersamaan pula, tidak diduganya lelakinya itu berhasil meraihnya dan mencegahnya pergi. Nathan kali ini lebih sigap dan langsung mengunci tubuh mungil Jolie di dekapannya yang kuat.

“Lepas…” Jolie mencoba melawan. Badannya menggeliat liar. “Mengapa kau selalu menarikku? Sesak…” protes Jolie keras. Kepalan gadis itu memukul-mukul dada bidang Nathan yang meringkusnya.

Nathan menghela nafas berat. “Kau sendiri, mengapa kau selalu lari dariku, Jolie?” tuntutnya. Rangkulannya pada gadis itu diperlonggar. “Kau tidak bahagia denganku?”

Jolie menghentikan serangannya. “Itu karena…” Terengah-engah kelelahan, dia dan Nathan lalu sama-sama terdiam. Keduanya saling melempar pandang tidak mau mengalah di awal hingga akhirnya, Jolie menunduk melihat lelakinya yang melunak seiring waktu yang perlahan memasuki hari yang baru. Pukul dua belas lewat kini jarum jam berdetik konstan. Nathan membelai sabar pipi Jolie.

“Maaf. Maafkan aku, Nathan. Aku salah,” aku Jolie rendah. Dirapatkannya dirinya dengan lelaki itu dan mulai membalas rengkuhan kekasihnya. “Padahal aku sudah berjanji akan menemanimu apapun yang terjadi.” Jolie meletakkan kepalanya di lekukan leher Nathan. Lambat-lambat dia terisak dan menyesali tingkahnya yang kekanak-kanakan. “Maafkan aku. Jangan lepaskan aku, Nathan. Please, jangan pernah lepaskan aku…”

**o**


…

“Bagaimana, Jolie?” Nathan menemukan pipi gadisnya memerah. Lelaki muda Montague itu tersenyum senang mengamatinya. “Apakah enak?” Jari-jarinya mengelus rambut Jolie dengan sayang. Lilin-lilin yang dipersiapkan Nathan agak terburu-buru tadi sekarang meliuk-liukkan apinya seakan tidak sadar diri untuk tidak mengganggu. Playlist pada notebook di dekat mereka beralih memutar ulang track yang berada di urutan paling atas—lagu dansa di Pesta Awal Tahun dua tahun lalu.

Jolie mengangguk malu-malu. “Iya. Coklat ini sungguh nikmat dan menenangkan, Nathan. Terima kasih.” Gadis itu menyeruput lagi minumannya pelan-pelan lalu berdecak puas. Lidahnya menjilat samar rasa manis yang tertinggal di bibir bawahnya.

“Ngomong-ngomong, apa yang akan kamu lakukan setelah lulus nanti?” Jolie memperhatikan isi mug yang digenggamnya erat seolah ada hal menarik yang lain di dalamnya selain coklat. Kelopaknya tidak berkedip dengan tidak normal. “Ini tahun terakhirmu di Beauxbatons. Kamu pasti sudah mempunyai rencana untuk masa depanmu. Aku tahu itu.”

Nathan tidak langsung menjawab. Alisnya bertaut tanda berpikir. Dia mengedikkan bahu. “Tidak juga.” Nathan menghabiskan coklatnya. “Itu tergantung keputusan penasehat keluarga kami. Mungkin aku akan melanjutkan sekolah di universitas Muggle, belajar bisnis. Tapi… bisa saja perusahaan Daddy diserahkan seluruhnya untuk kukelola. Tahun depan Montague Group diprediksi sangat sibuk. Tingkat persaingan akan semakin ketat dengan berbagai riset teknologi yang berkembang pesat; itu yang kutelusuri di internet sebelum kau datang.”

“Lalu… untuk pendampingmu?”

“Pendamping-ku?” Nathan menangkap pancaran kesedihan dari mata Jolie padanya. Kekasihnya itu meremas tangannya lembut.

“Aku sadar aku tidak pantas mengatakannya, Nathan.” Jolie mendesah galau. Telapaknya lembab berpegangan pada lelakinya. “Namun aku tetap perempuan.” Dia menelan ludah. “Tunangan baru, teman kuliah, sekretaris muda yang seumuran… Semua berpeluang menggantikanku di sisimu. Meskipun aku percaya padamu, Nathan, tapi aku takut. Aku takut akan hadir ‘Jolie yang lain’ yang lebih memenuhi kriteria keluargamu… dan diterima hatimu. Di Beauxbatons, walaupun harus saling menghindar, setidaknya aku masih bisa nekad menemui. Tetapi jika nanti, jika nanti kamu…” Jolie mengatupkan mulutnya. Dia menggeleng tidak berdaya. Tidak sanggup Jolie membayangkan kemungkinan terburuk yang besar menyongsongnya. Kehilangan Nathan adalah mimpi sekaligus kenyataan yang melumpuhkannya. Jiwanya akan timpang. Lelaki itu sudah terlanjur menjadi bagian dari dirinya.

Nathan memindahkan mugnya. Keheningan menyergap diantara dirinya dan Jolie. Dia telah menebak arah pembicaraan ini sebenarnya. Namun Nathan memilih bungkam dan membiarkan Jolie mengungkapkan dulu beban yang menekan mereka dari sudut pandang gadis itu. Dipeluknya Jolie dengan hangat.

“Masa depan adalah misteri. Tapi cuma ada satu ‘Jolie’ yang kukenal di hidupku,” bisiknya tegas. Nathan mengusap-usap teratur punggung kekasihnya. Disesapnya wangi gadis yang disukainya itu. “Dan ‘the only Jolie’ itu hanya dirimu. Jolie Campbell. Apakah itu tidak cukup?”

"Nathan, aku..."

—Fin—




...
-.-)a Entah kenapa, susah banget untuk menyelesaikan fanfic yang ini. Miyane…
And *lirik-lirik* err… okay. Aku sudah tidak mencoba membayangkan lagi bagaimana kalau Katie Holmes melarikan diri dari Tom Cruise, dan Tom Felton juga kabur dari Jade Olivia, lalu keduanya memadu kasih seusai acara MTV Movie Awards lalu. Yeah, itu mustahil—walaupun sepertinya Katie mungkin sama menariknya buat The Best Villain, dan setingkat berpengalaman dari yang bernama Jade itu. LOL *abaikan, abaikan saja kalimat-kalimat barusan* :D
Credit to: Everytime We Touch by Cascada.
And for your information:
-Clark Kent dalam kehidupan normalnya berhasil menggunakan kacamata untuk menutupi identitasnya yang seorang Superman *I know… this is only a film :)) *
-Romeo and Juliet dirilis tahun 1996. Titanic dirilis tahun 1997. Sumber: Wikipedia berbahasa Inggris.
-Sejak sebelum tahun 2002, dunia teknologi sudah mengenal laptop yang bisa digunakan untuk berinternet. Pada Macworld Expo di New York tahun 1999, Steve Jobs membuat kagum semua orang ketika membawa Apple iBook G3 ke panggung dan memakainya untuk surfing internet. Sumber: ini

Jumat, Juni 18, 2010

Je Vous Veux Seulement



Fanfic ini didedikasikan untuk Tom Felton dan Katie Holmes (Katie semasa Dawson’s Creek), yang digunakan sebagai visualisasi Nathan A. Montague dan Jolie Campbell—Tom Felton, untuk pesona luar biasa yang dimilikinya; Katie Holmes, untuk kepercayaandirinya yang sanggup mengubah mimpi menjadi kenyataan (See? Dia sekarang memiliki Suri Cruise, buah cinta dengan sang idola) :”>

Timeline : Liburan Musim Dingin, Liburan Kenaikan Tingkat—Jolie, dari tahun kedua menuju tahun ketiga; Nathan, dari tahun kelima akan memasuki tahun keenam. Setting masih berhubungan dengan fanfic ‘Collier Dauphin’ by PM Nathan (the next chapter or the sekuel, maybe?).
Rated : T — Sayangnya, hanya bisa sebatas T (?) *devil’s laugh :P*
Genre : (Hard) Romance.
Disclaimer : Nathan A. Montague and Hugo are belong to their PM. I only own the plot, and my Jolie Campbell, and the manager ;)
Note/Warning : Beberapa kalimat memang sengaja dituliskan dalam bahasa asing dan tidak ada dilampirkan terjemahan untuk itu. Tertarik untuk mengetahui artinya? Silakan dicari sendiri kalau begitu :)) And… sorry. This is a western lifestyle, not the eastern. So click ‘back’ if you are not ready for it. I’m warning you :))

Je Vous Veux Seulement


I’ve got you…
Under my skin…


Tampak tidak ada pergerakan yang signifikan di dalam salah satu kamar villa milik keluarga Montague itu sedari tadi. Bagaikan terkena efek pasca terjerat pesona retina Basilisk, penghuninya tetap bertahan dengan pose yang sama seperti saat baru merebahkan tubuhnya pada tempat tidur yang ada—kedua lengan menjadi bantal tambahan pada kepala, dan kedua kaki diselonjorkan rileks sekenanya. Kemeja yang melekat masih kemeja yang sama dengan yang dipakai dari sore harinya, belum diganti dengan pakaian yang lebih nyaman untuk tidur. Jas hitam? Tergeletak begitu saja pada lengan single-sofa dekat meja kopi, terlalu malas untuk digantungkan oleh pemiliknya.

Malam telah beranjak semakin larut dengan bulan penuh yang tidak tertutupi awan sedang menemani beberapa bintang menghiasi langit gelap. Kombinasi jarum jam dinding menunjukkan pukul duabelas tepat, yang berarti, sudah satu jam lebih Nathan Montague menghabiskan waktunya hanya dengan memandangi langit-langit kamar yang tidak kunjung membalas senyum bahagianya. Kantuk enggan menyapanya sekarang ini. Dan lelaki muda Montague itu, dia tidak keberatan dengan hal tersebut meskipun badannya jelas letih dan membutuhkan istirahat yang cukup guna memulihkan energi demi setumpuk rencana pengisi hari esok. Semua berjalan lancar sesuai keinginannya sejauh ini.

**o**


Di taman belakang villa, yang menyisakan beberapa meter lahan kosong menuju tepian danau, Jolie Campbell bergerak-gerak mencari posisi duduk yang nyaman pada ayunan yang menggantung pada dahan pohon terbesar dan kelihatan berusia paling tua yang ada di sana. Tangannya memegang tali tambang pada kedua sisi, siap berayun. Tetapi selewat beberapa menit, tungkainya tidak juga mengambil ancang-ancang untuk memulai permainan. Gadis itu tenggelam dalam lamunan. Jolie membiarkan alam pikirannya berkelana bebas, menyesap perasaan menyenangkan yang memenuhinya sejak mengetahui tujuan dirinya dibawa kemari. Manik kembar berwarna serupa pada matanya berbinar terang mengekori tarian kunang-kunang yang mengelilingi.

**o**


“Kau bisa membeku, Jolie. Di sini dingin.” Kisikan ramah menggelitik telinga, tiba-tiba menyalip masuk di sela-sela diamnya. Jolie sebenarnya sudah mendengar langkah-langkah yang menginjak rumput di balik punggungnya dalam semenit terakhir. Namun tetap saja, sedikit terkejut dan kegugupan menyergap sang gadis ketika yang empunya suara kini merapatkan tubuh dengannya dari arah belakang.

“Benarkah? Aku justru telah merasa cukup hangat sebelum kamu datang memelukku,” tampik Jolie ringan. Berlawanan dengan kata-kata yang terucap, dia kemudian justru mengelus sayang lengan yang melintang di dada atasnya, menyemangati agar didekap lebih erat.

Nathan tertawa rendah. Hidung mancungnya menghirup dalam-dalam wangi rambut dan aroma segar yang menguar dari pori-pori kulit kekasihnya. “Kenapa belum tidur?” Pertanyaan lazim terlontar mengingat tengah malam menjemput dengan begitu cepat. Waktu berjalan tergesa, well, ketika manusia berharap lajunya melambat demi menikmati setiap detiknya lebih lama dari biasa.

“Tidak bisa. Sama sekali tidak mengantuk.” Ujung-ujung bibir Jolie tertarik membentuk lengkungan sempurna. “Tempat tidurku terlalu besar, Nathan.”

“Mau kutemani kalau begitu.” Bunyi jangkrik yang bersembunyi di rerumputan lembab saling bersahutan. Nathan tersenyum penuh arti. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Desahan nafasnya membelai tengkuk gadis di depannya.

“Aku tidak berpikir begitu.” Bantahan langsung dikeluarkan Jolie. Disikutnya pelan rusuk lelakinya karena malu. Wajahnya memerah padam. “Insomniaku kambuh. Itu saja.”

Kamar Jolie memang sengaja terpisah dengan Nathan. Biar bagaimanapun, mereka masih remaja dan belum ada ikatan sah yang lebih kuat diantara keduanya. Bahkan semula, Jolie mengira akan tidur satu kamar dengan manajernya, Naomi Sato. Tetapi sama halnya dengan para pelayan yang seharusnya ada berseliweran mengurus villa dan majikannya, wanita Jepang itu malah lenyap, tidak diketahui kemana perginya. Selain Hugo, tangan kanan Nathan, pria yang sepintas memperkenalkan menu apa saja yang terhidang untuk makan malam mereka, Jolie seakan cuma tinggal berdua dengan kekasihnya di bangunan ini. Nathan mengatakan kalau Naomi memiliki kesibukan dengan M Entertainment dan baru akan menemui artis asuhannya itu ketika saatnya tiba untuk pulang.

“Tidak perlu sungkan. Itu wajar.” Tidak menyilakan panas di pipi Jolie pamit menghilang, Nathan terus melancarkan serangannya yang dilemparkan dengan kesan seserius mungkin. “Aku bersedia jika kau penasaran.”

“Oh, hentikan.” Sikutan Jolie yang kedua, yang lebih diwarnai tekanan, memaksa Nathan menjauhkan badan akhirnya. Dia kini hanya dapat berdiri tegap di belakang gadis itu dan meremas gemas pundaknya. “Jangan bercanda lagi,” mohon Jolie dengan bibir yang mengerucut kesal.

“Aku tidak main-main,” kilah Nathan berbohong. “Aku tahu kau juga menginginkannya.”

“Nathaann…”

Lelaki muda Montague itu tersenyum puas. Sebuah acakan kecil pada rambut panjang semi-ikal Jolie dihadiahkan Nathan sebelum tangannya mulai membantu mengayunkan tempat kekasihnya duduk. Tidak bisa dibayangkan kalau seandainya tadi indera pendengarannya tidak tanggap menangkap tanda-tanda Jolie mengendap keluar dari ruang tidur di seberang kamarnya. Sangat jarang Nathan memiliki kesempatan menggoda gadisnya itu habis-habisan. Dan dia menyukai setiap kali semburat lucu di pipi Jolie muncul akibat dipicu perbuatannya.

**o**


Taman belakang villa keluarga Montague memang istimewa dibandingkan taman serupa di villa lainnya pada kawasan yang sama. Dengan sihir yang berkala diperbaharui dari tahun ke tahun, suasana musim semi di taman tersebut tidak pernah terjamah oleh iklim dingin yang bersalju maupun udara panas yang mengeringkan dedaunan. Pohon-pohon tidak meranggas, rimbunan semak buah beri liar tetap tumbuh sehat, dan air danau mini tanpa riak mustahil mengeras menjadi es. Di siang hari kupu-kupu mencicipi bunga-bunga eksotik dan tupai kecil berkejaran mengumpulkan kenari. Sedangkan malamnya, giliran kumbang yang berpendar indah mencercah cahaya bersama lampu taman yang ada.

“Nathan, kamu tidak memperlihatkan padaku isi ruangan di atas.” Jolie memiringkan kepalanya. Sandal tidurnya bertindak sebagai rem, menghentikan pergerakan ayunan.

Mengikuti arah pandang Jolie, Nathan paham bagian mana yang dimaksud. Dia sempat mengajak kekasihnya berkeliling sebentar, melihat-lihat keadaan villa secara keseluruhan. Ruangan itu satu-satunya yang luput dari acara tur singkat mereka karena Hugo telah keburu mengumumkan waktunya makan malam.

“Kau tertarik ke sana sekarang?”

Anggukan diperoleh Nathan sebagai jawaban. Jolie berdiri di sampingnya dan merangkul manis lengannya. “Tentu. Aku ingin tahu lebih banyak segala yang berhubungan denganmu, Nathan.”

**o**


“Wanita ini pasti mamamu,” Jolie berlutut lalu duduk pada betisnya. Dia mengamati kanvas terdekat yang tergeletak di lantai dan disandarkan pada dinding. Lukisan itu tergolong setengah jadi. Sapuan catnya belum menjamah seluruh permukaan bidang. Namun Jolie mengenali lekuk-lekuk modelnya sebagai orang tua Nathan. Dia sekilas bertatap muka dengan istri Tuan Besar Montague itu saat Naomi mengajaknya ke Kastil Montague.

Nathan yang menyingkap kain putih yang melindungi sejumlah kanvas lainnya dari debu, menimpali dari sisi ruangan di arah berlawanan. “Yup. Kau pernah bertemu dengan Mommy?”

Jolie mengangguk. “Setahun lalu. Di hari pesta pertunanganmu. Ingat?” Dia tersenyum simpul. “Aku memberi ucapan selamat padanya, juga pada papamu. Tunanganmu cantik, by the way.”

Keduanya kini berada di studio lukis pribadi, ruang tersendiri yang ada di lantai teratas villa. Tidak banyak furniture yang terdapat di dalamnya. Cuma ada sebuah sofa memanjang di tengah ruangan. Hamparan permadani persia membentang luas menutupi pandangan akan marmer di bawahnya. Perangkat lukis berkaki tiga berdiri kokoh di sudut timur. Kabinet di dekatnya menyimpan long tube cat beragam warna dengan paletnya. Kuas-kuas dari yang tipis sampai yang tebal tersusun rapi di dalam tiga gelas keramik cina di sebuah meja bundar.

Nathan berjongkok di sebelah Jolie. Sirkulasi udara pada studio lukis ini sangat bagus sehingga bau cat minyak tidak kentara tercium. “Mantan-calon-tunangan, Jolie. Aku dan dia tidak ada ikatan apa-apa. Dan aku tidak peduli dia cantik atau tidak.” Lelaki muda Montague itu mengecup pipi gadisnya. “Kau tidak memperhitungkan kejadian di akhir pesta itu, heh? Di koridor?”

“Yang senior satu asramaku itu memergoki kita?” tantang Jolie asal.

“Tentu saja bukan yang itu. Tapi—” Mata Nathan terpaku pada pintu yang sejajar dengan mereka. Dia merasa ada sesuatu yang janggal dengan tidak adanya celah yang memperlihatkan lorong gelap villa di lantai dua.

“Kau menutup pintu, Jolie?” Nathan berjalan dan mencoba menarik gagang kayu berpelitur indah itu. Sekali. Dua kali. Tidak bergeser sedikitpun. Sia-sia.

Jolie heran melihat usaha Nathan yang mengeluarkan tenaga lebih hanya untuk membuka sebuah pintu. “Iya, aku menutupnya. Kenapa?”

“Kita terkunci.” Ekspresi Nathan datar. “Pintu ini sudah macet sejak dulu, makanya tidak pernah ditutup. Tongkat sihirmu ada?”

**o**


Dua anak manusia yang masih terjaga itu tidak ada yang bersuara. Satu sama lain saling meresapi dentuman jantung pasangannya yang berduet riuh dengan milik sendiri. Yang perempuan duduk di pangkuan yang lelaki. Kepalanya bersandar pada bahu kekasihnya dengan nyaman. Jemarinya sesekali memainkan bandul platina yang berbentuk persis seperti punyanya—dolphin. Sementara yang lelaki, yang genap berusia enam belas tahun di Desember lalu, berusaha mengatur nafasnya dengan dada yang terasa diimpit beban yang lebih berat dari bobot tubuh gadisnya.

“Jolie, je t’aime…”

Nathan tidak menemukan alasan mengapa dirinya hanya mampu mengusap-usap pelan sebelah lengan Jolie yang tertutup jaket tipis di atas gaun tidur. Lelaki muda Montague itu tidak sanggup berbicara, mencari topik mengisi kekosongan. Benaknya berkhianat, menolak bekerja sama mencari ide. Cuma kalimat barusan yang disodorkan untuknya dan diluncurkan memecah kebuntuan.

“Moi aussi. Je t’aime, Nathan,” balas Jolie tersipu kemudian sunyi kembali.

Jolie sadar keheningan di antara mereka ganjil. Namun dia tidak berani bergeser satu senti pun dari tempatnya meringkuk. Jolie takut Nathan akan tersinggung dan beranggapan dirinya tidak mempercayai pemuda itu. Gadis itu lelah dengan hari-hari dimana mereka harus menjaga jarak gara-gara nama Montague yang disandang Nathan.

“That’s not… the correct answer, Jolie.” Nathan meluruskan punggungnya. Dituntunnya Jolie untuk memperbaiki letak duduknya dan mempertemukan warna coklat-kehijauan dengan yang biru. Suaranya mengambang seolah ragu.

“Aku tidak mengerti. Bukankah…?”

“Vous devriez m’embrasser.” Tanpa berniat memotong pertanyaan Jolie, permintaan itu lugas diungkapkan Nathan. Reaksi badannya semakin menyuarakan lantang pikirannya yang tertutupi bayang pujaan hatinya. Hidung Nathan menyentuh ujung hidung Jolie yang dingin.

Jolie tertawa kecil. “How about… more than that?” pancingnya. Sorot mata gadis itu sayu. Tubuhnya bergetar ketika bibir mereka bertaut lembut. Hangat. “Nathan, touchez-moi…”

**o**


Ufuk timur di kejauhan telah tergelak dari lelapnya. Gorden yang tidak terpasang membebaskan garis-garis sinar mentari pagi menerobos kotak-kotak kaca pada pintu yang berbatasan dengan balkon. Jolie menggeliat lemah. Jari-jari Nathan terhenti dari kegiatannya—menyampirkan helaian rambut yang jatuh menutupi wajah manis gadisnya.

“Selamat pagi, Jolie.” Nathan mencium punggung tangan kekasihnya. Tangan kirinya lalu menaikkan kembali jas hitamnya yang merosot dari tugas menyelimuti tubuh mungil Jolie. “Sudah bangun?”

Erangan manja mengiyakan datang dari Jolie. Nathan tersenyum. Tetapi kelopak mata kekasihnya tidak membuka. Jolie tetap terkulai cantik di sofa. Jemarinya masih membungkus rapat tangan kanan Nathan yang tidak mau dilepaskannya semenjak cumbuan mereka dimulai.

Lengkungan kemenangan tersemat di bibir Nathan. Dia baru saja melalui satu malam bersama Jolie. Dan Nathan bangga, kasih sayangnya pada Jolie ternyata lebih besar dibandingkan gejolak hormonal yang lumrah dialami lelaki seumurannya. Walaupun ciumannya lebih mengeksplorasi dan sempat menyebabkan mereka tersengal kehabisan nafas, peristiwa di ruangan klub drama tidak perlu terulang. Jolie tidak akan menepisnya. Namun Nathan, dia menghormati Jolie sebagai gadis baik-baik dan tidak ingin merusaknya. Lelaki Montague itu menahan diri untuk tidak akan melanggar batas selama kepastian akan pendamping hidupnya terus berada dalam ombang-ambing kepentingan keluarganya dan suara hatinya sendiri—Dia mencintai Jolie. Lebih dalam daripada apa yang bisa ditunjukkannya di depan gadis itu.

**o**


Jolie memperhatikan Nathan yang mengakhiri pembicaraannya dengan Hugo di telepon seluler. Dengan pertolongan gagang kuas berukuran tipis, rambut panjangnya telah bergulung menyerupai sanggul mini dengan bagian yang ikal dibiarkan menjuntai anggun seturut gravitasi. Bibirnya terkatup rapat dengan lutut bertekuk menopang dagu.

“Ada apa?” Nathan bingung dengan tatapan menelisik yang tertuju padanya. Dia bangkit dari duduknya di lantai untuk kemudian bersandar pada punggung kursi, bersisian dengan Jolie. Tidur dengan posisi duduk dan cuma kepala yang berbaring pada dudukan sofa agak membuat badannya kaku. Nathan melakukan sedikit stretching. Sendinya pegal.

“Kamu membawa ponsel?” tanya Jolie merujuk pada alat komunikasi elektronik yang barusan tersimpan lagi ke dalam saku celana Nathan. Tangannya meraih bantalan sofa dan mendekapnya di dada.

“Eh?” Nathan meraba bagian luar kantong bawahnya. Kesadarannya tampak belum bekerja maksimal. “Sepertinya iya.”

“’Sepertinya iya’?” bisik Jolie tidak percaya. Perutnya melilit lapar, menuntut sarapan. Tetapi bukan itu yang membuatnya tidak tenang. “Nathan, tidak seharusnya kita terperangkap semalaman. Kamu bisa langsung menghubungi Hugo untuk mengeluarkan kita dari sini sejak beberapa jam yang lalu.”

Sejenak Nathan terdiam. Benar. Dia tidak ingat kapan telepon genggamnya ikut dengannya. “Sorry, aku lupa.” Dielusnya pipi Jolie. “Kamu marah?”

“Aku…” Jolie mendengus salah tingkah. Konsentrasinya terpecah. Nathan menyingkirkan bantal yang menjadi penghalang di antara mereka. Bibirnya setengah membuka di hadapan Jolie.

“Ya?”

Jolie menarik nafas banyak-banyak. Firasatnya terang-terangan mengatakan dia telah kalah duluan. Jolie tidak sanggup memandang iris biru bening Nathan lebih lama layaknya biasa. Pelupuknya terpejam, menurut pada kecurangan sang Tuan Muda Montague itu. Percuma. “Aku… mencintaimu, Nathan.”

—Fin—




...
OOC? Salahkan drama Korea. Eh, tidak... Bunuh saja saya *gubrak* =))
-.-)a Btw, part Nathan and part Jolie berimbang gak ya?