Aku hanyalah seorang gadis yang tidak pandai merangkai kata-kata menjadi untaian kalimat indah dan nikmat untuk dibaca... Percaya?
:))

Let me be the one... (SS501)

Jumat, Juni 18, 2010

Je Vous Veux Seulement



Fanfic ini didedikasikan untuk Tom Felton dan Katie Holmes (Katie semasa Dawson’s Creek), yang digunakan sebagai visualisasi Nathan A. Montague dan Jolie Campbell—Tom Felton, untuk pesona luar biasa yang dimilikinya; Katie Holmes, untuk kepercayaandirinya yang sanggup mengubah mimpi menjadi kenyataan (See? Dia sekarang memiliki Suri Cruise, buah cinta dengan sang idola) :”>

Timeline : Liburan Musim Dingin, Liburan Kenaikan Tingkat—Jolie, dari tahun kedua menuju tahun ketiga; Nathan, dari tahun kelima akan memasuki tahun keenam. Setting masih berhubungan dengan fanfic ‘Collier Dauphin’ by PM Nathan (the next chapter or the sekuel, maybe?).
Rated : T — Sayangnya, hanya bisa sebatas T (?) *devil’s laugh :P*
Genre : (Hard) Romance.
Disclaimer : Nathan A. Montague and Hugo are belong to their PM. I only own the plot, and my Jolie Campbell, and the manager ;)
Note/Warning : Beberapa kalimat memang sengaja dituliskan dalam bahasa asing dan tidak ada dilampirkan terjemahan untuk itu. Tertarik untuk mengetahui artinya? Silakan dicari sendiri kalau begitu :)) And… sorry. This is a western lifestyle, not the eastern. So click ‘back’ if you are not ready for it. I’m warning you :))

Je Vous Veux Seulement


I’ve got you…
Under my skin…


Tampak tidak ada pergerakan yang signifikan di dalam salah satu kamar villa milik keluarga Montague itu sedari tadi. Bagaikan terkena efek pasca terjerat pesona retina Basilisk, penghuninya tetap bertahan dengan pose yang sama seperti saat baru merebahkan tubuhnya pada tempat tidur yang ada—kedua lengan menjadi bantal tambahan pada kepala, dan kedua kaki diselonjorkan rileks sekenanya. Kemeja yang melekat masih kemeja yang sama dengan yang dipakai dari sore harinya, belum diganti dengan pakaian yang lebih nyaman untuk tidur. Jas hitam? Tergeletak begitu saja pada lengan single-sofa dekat meja kopi, terlalu malas untuk digantungkan oleh pemiliknya.

Malam telah beranjak semakin larut dengan bulan penuh yang tidak tertutupi awan sedang menemani beberapa bintang menghiasi langit gelap. Kombinasi jarum jam dinding menunjukkan pukul duabelas tepat, yang berarti, sudah satu jam lebih Nathan Montague menghabiskan waktunya hanya dengan memandangi langit-langit kamar yang tidak kunjung membalas senyum bahagianya. Kantuk enggan menyapanya sekarang ini. Dan lelaki muda Montague itu, dia tidak keberatan dengan hal tersebut meskipun badannya jelas letih dan membutuhkan istirahat yang cukup guna memulihkan energi demi setumpuk rencana pengisi hari esok. Semua berjalan lancar sesuai keinginannya sejauh ini.

**o**


Di taman belakang villa, yang menyisakan beberapa meter lahan kosong menuju tepian danau, Jolie Campbell bergerak-gerak mencari posisi duduk yang nyaman pada ayunan yang menggantung pada dahan pohon terbesar dan kelihatan berusia paling tua yang ada di sana. Tangannya memegang tali tambang pada kedua sisi, siap berayun. Tetapi selewat beberapa menit, tungkainya tidak juga mengambil ancang-ancang untuk memulai permainan. Gadis itu tenggelam dalam lamunan. Jolie membiarkan alam pikirannya berkelana bebas, menyesap perasaan menyenangkan yang memenuhinya sejak mengetahui tujuan dirinya dibawa kemari. Manik kembar berwarna serupa pada matanya berbinar terang mengekori tarian kunang-kunang yang mengelilingi.

**o**


“Kau bisa membeku, Jolie. Di sini dingin.” Kisikan ramah menggelitik telinga, tiba-tiba menyalip masuk di sela-sela diamnya. Jolie sebenarnya sudah mendengar langkah-langkah yang menginjak rumput di balik punggungnya dalam semenit terakhir. Namun tetap saja, sedikit terkejut dan kegugupan menyergap sang gadis ketika yang empunya suara kini merapatkan tubuh dengannya dari arah belakang.

“Benarkah? Aku justru telah merasa cukup hangat sebelum kamu datang memelukku,” tampik Jolie ringan. Berlawanan dengan kata-kata yang terucap, dia kemudian justru mengelus sayang lengan yang melintang di dada atasnya, menyemangati agar didekap lebih erat.

Nathan tertawa rendah. Hidung mancungnya menghirup dalam-dalam wangi rambut dan aroma segar yang menguar dari pori-pori kulit kekasihnya. “Kenapa belum tidur?” Pertanyaan lazim terlontar mengingat tengah malam menjemput dengan begitu cepat. Waktu berjalan tergesa, well, ketika manusia berharap lajunya melambat demi menikmati setiap detiknya lebih lama dari biasa.

“Tidak bisa. Sama sekali tidak mengantuk.” Ujung-ujung bibir Jolie tertarik membentuk lengkungan sempurna. “Tempat tidurku terlalu besar, Nathan.”

“Mau kutemani kalau begitu.” Bunyi jangkrik yang bersembunyi di rerumputan lembab saling bersahutan. Nathan tersenyum penuh arti. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Desahan nafasnya membelai tengkuk gadis di depannya.

“Aku tidak berpikir begitu.” Bantahan langsung dikeluarkan Jolie. Disikutnya pelan rusuk lelakinya karena malu. Wajahnya memerah padam. “Insomniaku kambuh. Itu saja.”

Kamar Jolie memang sengaja terpisah dengan Nathan. Biar bagaimanapun, mereka masih remaja dan belum ada ikatan sah yang lebih kuat diantara keduanya. Bahkan semula, Jolie mengira akan tidur satu kamar dengan manajernya, Naomi Sato. Tetapi sama halnya dengan para pelayan yang seharusnya ada berseliweran mengurus villa dan majikannya, wanita Jepang itu malah lenyap, tidak diketahui kemana perginya. Selain Hugo, tangan kanan Nathan, pria yang sepintas memperkenalkan menu apa saja yang terhidang untuk makan malam mereka, Jolie seakan cuma tinggal berdua dengan kekasihnya di bangunan ini. Nathan mengatakan kalau Naomi memiliki kesibukan dengan M Entertainment dan baru akan menemui artis asuhannya itu ketika saatnya tiba untuk pulang.

“Tidak perlu sungkan. Itu wajar.” Tidak menyilakan panas di pipi Jolie pamit menghilang, Nathan terus melancarkan serangannya yang dilemparkan dengan kesan seserius mungkin. “Aku bersedia jika kau penasaran.”

“Oh, hentikan.” Sikutan Jolie yang kedua, yang lebih diwarnai tekanan, memaksa Nathan menjauhkan badan akhirnya. Dia kini hanya dapat berdiri tegap di belakang gadis itu dan meremas gemas pundaknya. “Jangan bercanda lagi,” mohon Jolie dengan bibir yang mengerucut kesal.

“Aku tidak main-main,” kilah Nathan berbohong. “Aku tahu kau juga menginginkannya.”

“Nathaann…”

Lelaki muda Montague itu tersenyum puas. Sebuah acakan kecil pada rambut panjang semi-ikal Jolie dihadiahkan Nathan sebelum tangannya mulai membantu mengayunkan tempat kekasihnya duduk. Tidak bisa dibayangkan kalau seandainya tadi indera pendengarannya tidak tanggap menangkap tanda-tanda Jolie mengendap keluar dari ruang tidur di seberang kamarnya. Sangat jarang Nathan memiliki kesempatan menggoda gadisnya itu habis-habisan. Dan dia menyukai setiap kali semburat lucu di pipi Jolie muncul akibat dipicu perbuatannya.

**o**


Taman belakang villa keluarga Montague memang istimewa dibandingkan taman serupa di villa lainnya pada kawasan yang sama. Dengan sihir yang berkala diperbaharui dari tahun ke tahun, suasana musim semi di taman tersebut tidak pernah terjamah oleh iklim dingin yang bersalju maupun udara panas yang mengeringkan dedaunan. Pohon-pohon tidak meranggas, rimbunan semak buah beri liar tetap tumbuh sehat, dan air danau mini tanpa riak mustahil mengeras menjadi es. Di siang hari kupu-kupu mencicipi bunga-bunga eksotik dan tupai kecil berkejaran mengumpulkan kenari. Sedangkan malamnya, giliran kumbang yang berpendar indah mencercah cahaya bersama lampu taman yang ada.

“Nathan, kamu tidak memperlihatkan padaku isi ruangan di atas.” Jolie memiringkan kepalanya. Sandal tidurnya bertindak sebagai rem, menghentikan pergerakan ayunan.

Mengikuti arah pandang Jolie, Nathan paham bagian mana yang dimaksud. Dia sempat mengajak kekasihnya berkeliling sebentar, melihat-lihat keadaan villa secara keseluruhan. Ruangan itu satu-satunya yang luput dari acara tur singkat mereka karena Hugo telah keburu mengumumkan waktunya makan malam.

“Kau tertarik ke sana sekarang?”

Anggukan diperoleh Nathan sebagai jawaban. Jolie berdiri di sampingnya dan merangkul manis lengannya. “Tentu. Aku ingin tahu lebih banyak segala yang berhubungan denganmu, Nathan.”

**o**


“Wanita ini pasti mamamu,” Jolie berlutut lalu duduk pada betisnya. Dia mengamati kanvas terdekat yang tergeletak di lantai dan disandarkan pada dinding. Lukisan itu tergolong setengah jadi. Sapuan catnya belum menjamah seluruh permukaan bidang. Namun Jolie mengenali lekuk-lekuk modelnya sebagai orang tua Nathan. Dia sekilas bertatap muka dengan istri Tuan Besar Montague itu saat Naomi mengajaknya ke Kastil Montague.

Nathan yang menyingkap kain putih yang melindungi sejumlah kanvas lainnya dari debu, menimpali dari sisi ruangan di arah berlawanan. “Yup. Kau pernah bertemu dengan Mommy?”

Jolie mengangguk. “Setahun lalu. Di hari pesta pertunanganmu. Ingat?” Dia tersenyum simpul. “Aku memberi ucapan selamat padanya, juga pada papamu. Tunanganmu cantik, by the way.”

Keduanya kini berada di studio lukis pribadi, ruang tersendiri yang ada di lantai teratas villa. Tidak banyak furniture yang terdapat di dalamnya. Cuma ada sebuah sofa memanjang di tengah ruangan. Hamparan permadani persia membentang luas menutupi pandangan akan marmer di bawahnya. Perangkat lukis berkaki tiga berdiri kokoh di sudut timur. Kabinet di dekatnya menyimpan long tube cat beragam warna dengan paletnya. Kuas-kuas dari yang tipis sampai yang tebal tersusun rapi di dalam tiga gelas keramik cina di sebuah meja bundar.

Nathan berjongkok di sebelah Jolie. Sirkulasi udara pada studio lukis ini sangat bagus sehingga bau cat minyak tidak kentara tercium. “Mantan-calon-tunangan, Jolie. Aku dan dia tidak ada ikatan apa-apa. Dan aku tidak peduli dia cantik atau tidak.” Lelaki muda Montague itu mengecup pipi gadisnya. “Kau tidak memperhitungkan kejadian di akhir pesta itu, heh? Di koridor?”

“Yang senior satu asramaku itu memergoki kita?” tantang Jolie asal.

“Tentu saja bukan yang itu. Tapi—” Mata Nathan terpaku pada pintu yang sejajar dengan mereka. Dia merasa ada sesuatu yang janggal dengan tidak adanya celah yang memperlihatkan lorong gelap villa di lantai dua.

“Kau menutup pintu, Jolie?” Nathan berjalan dan mencoba menarik gagang kayu berpelitur indah itu. Sekali. Dua kali. Tidak bergeser sedikitpun. Sia-sia.

Jolie heran melihat usaha Nathan yang mengeluarkan tenaga lebih hanya untuk membuka sebuah pintu. “Iya, aku menutupnya. Kenapa?”

“Kita terkunci.” Ekspresi Nathan datar. “Pintu ini sudah macet sejak dulu, makanya tidak pernah ditutup. Tongkat sihirmu ada?”

**o**


Dua anak manusia yang masih terjaga itu tidak ada yang bersuara. Satu sama lain saling meresapi dentuman jantung pasangannya yang berduet riuh dengan milik sendiri. Yang perempuan duduk di pangkuan yang lelaki. Kepalanya bersandar pada bahu kekasihnya dengan nyaman. Jemarinya sesekali memainkan bandul platina yang berbentuk persis seperti punyanya—dolphin. Sementara yang lelaki, yang genap berusia enam belas tahun di Desember lalu, berusaha mengatur nafasnya dengan dada yang terasa diimpit beban yang lebih berat dari bobot tubuh gadisnya.

“Jolie, je t’aime…”

Nathan tidak menemukan alasan mengapa dirinya hanya mampu mengusap-usap pelan sebelah lengan Jolie yang tertutup jaket tipis di atas gaun tidur. Lelaki muda Montague itu tidak sanggup berbicara, mencari topik mengisi kekosongan. Benaknya berkhianat, menolak bekerja sama mencari ide. Cuma kalimat barusan yang disodorkan untuknya dan diluncurkan memecah kebuntuan.

“Moi aussi. Je t’aime, Nathan,” balas Jolie tersipu kemudian sunyi kembali.

Jolie sadar keheningan di antara mereka ganjil. Namun dia tidak berani bergeser satu senti pun dari tempatnya meringkuk. Jolie takut Nathan akan tersinggung dan beranggapan dirinya tidak mempercayai pemuda itu. Gadis itu lelah dengan hari-hari dimana mereka harus menjaga jarak gara-gara nama Montague yang disandang Nathan.

“That’s not… the correct answer, Jolie.” Nathan meluruskan punggungnya. Dituntunnya Jolie untuk memperbaiki letak duduknya dan mempertemukan warna coklat-kehijauan dengan yang biru. Suaranya mengambang seolah ragu.

“Aku tidak mengerti. Bukankah…?”

“Vous devriez m’embrasser.” Tanpa berniat memotong pertanyaan Jolie, permintaan itu lugas diungkapkan Nathan. Reaksi badannya semakin menyuarakan lantang pikirannya yang tertutupi bayang pujaan hatinya. Hidung Nathan menyentuh ujung hidung Jolie yang dingin.

Jolie tertawa kecil. “How about… more than that?” pancingnya. Sorot mata gadis itu sayu. Tubuhnya bergetar ketika bibir mereka bertaut lembut. Hangat. “Nathan, touchez-moi…”

**o**


Ufuk timur di kejauhan telah tergelak dari lelapnya. Gorden yang tidak terpasang membebaskan garis-garis sinar mentari pagi menerobos kotak-kotak kaca pada pintu yang berbatasan dengan balkon. Jolie menggeliat lemah. Jari-jari Nathan terhenti dari kegiatannya—menyampirkan helaian rambut yang jatuh menutupi wajah manis gadisnya.

“Selamat pagi, Jolie.” Nathan mencium punggung tangan kekasihnya. Tangan kirinya lalu menaikkan kembali jas hitamnya yang merosot dari tugas menyelimuti tubuh mungil Jolie. “Sudah bangun?”

Erangan manja mengiyakan datang dari Jolie. Nathan tersenyum. Tetapi kelopak mata kekasihnya tidak membuka. Jolie tetap terkulai cantik di sofa. Jemarinya masih membungkus rapat tangan kanan Nathan yang tidak mau dilepaskannya semenjak cumbuan mereka dimulai.

Lengkungan kemenangan tersemat di bibir Nathan. Dia baru saja melalui satu malam bersama Jolie. Dan Nathan bangga, kasih sayangnya pada Jolie ternyata lebih besar dibandingkan gejolak hormonal yang lumrah dialami lelaki seumurannya. Walaupun ciumannya lebih mengeksplorasi dan sempat menyebabkan mereka tersengal kehabisan nafas, peristiwa di ruangan klub drama tidak perlu terulang. Jolie tidak akan menepisnya. Namun Nathan, dia menghormati Jolie sebagai gadis baik-baik dan tidak ingin merusaknya. Lelaki Montague itu menahan diri untuk tidak akan melanggar batas selama kepastian akan pendamping hidupnya terus berada dalam ombang-ambing kepentingan keluarganya dan suara hatinya sendiri—Dia mencintai Jolie. Lebih dalam daripada apa yang bisa ditunjukkannya di depan gadis itu.

**o**


Jolie memperhatikan Nathan yang mengakhiri pembicaraannya dengan Hugo di telepon seluler. Dengan pertolongan gagang kuas berukuran tipis, rambut panjangnya telah bergulung menyerupai sanggul mini dengan bagian yang ikal dibiarkan menjuntai anggun seturut gravitasi. Bibirnya terkatup rapat dengan lutut bertekuk menopang dagu.

“Ada apa?” Nathan bingung dengan tatapan menelisik yang tertuju padanya. Dia bangkit dari duduknya di lantai untuk kemudian bersandar pada punggung kursi, bersisian dengan Jolie. Tidur dengan posisi duduk dan cuma kepala yang berbaring pada dudukan sofa agak membuat badannya kaku. Nathan melakukan sedikit stretching. Sendinya pegal.

“Kamu membawa ponsel?” tanya Jolie merujuk pada alat komunikasi elektronik yang barusan tersimpan lagi ke dalam saku celana Nathan. Tangannya meraih bantalan sofa dan mendekapnya di dada.

“Eh?” Nathan meraba bagian luar kantong bawahnya. Kesadarannya tampak belum bekerja maksimal. “Sepertinya iya.”

“’Sepertinya iya’?” bisik Jolie tidak percaya. Perutnya melilit lapar, menuntut sarapan. Tetapi bukan itu yang membuatnya tidak tenang. “Nathan, tidak seharusnya kita terperangkap semalaman. Kamu bisa langsung menghubungi Hugo untuk mengeluarkan kita dari sini sejak beberapa jam yang lalu.”

Sejenak Nathan terdiam. Benar. Dia tidak ingat kapan telepon genggamnya ikut dengannya. “Sorry, aku lupa.” Dielusnya pipi Jolie. “Kamu marah?”

“Aku…” Jolie mendengus salah tingkah. Konsentrasinya terpecah. Nathan menyingkirkan bantal yang menjadi penghalang di antara mereka. Bibirnya setengah membuka di hadapan Jolie.

“Ya?”

Jolie menarik nafas banyak-banyak. Firasatnya terang-terangan mengatakan dia telah kalah duluan. Jolie tidak sanggup memandang iris biru bening Nathan lebih lama layaknya biasa. Pelupuknya terpejam, menurut pada kecurangan sang Tuan Muda Montague itu. Percuma. “Aku… mencintaimu, Nathan.”

—Fin—




...
OOC? Salahkan drama Korea. Eh, tidak... Bunuh saja saya *gubrak* =))
-.-)a Btw, part Nathan and part Jolie berimbang gak ya?

0 komentar: